jalan kota

•Oktober 21, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

di kota ini, jalan-jalan meleleh
seperti kenangan yang membenci tubuhnya sendiri
sehingga tiap pejalan-kaki mesti berjalan perlahan
amat hati-hati

entah di retakan jalan mana
pernah aku tanam ingatanku
tentang rimis-rimis cahaya dari matamu
tentang suatu waktu
ketika jarum jam sempat sejenak tak berdetak
setelah sececap ciuman yang kau titipkan di bibirku
menemaniku pulang dengan kedua tungkai yang layu

setiap kelok di jalan-jalan kota ini
mengingatkanku pada alir sungai
di rambutmu yang urai
pada kenangan yang tiap kali kau potong
akan bertambah panjang, semakin memanjang
dan semakin nakal menjawil punggungmu

suara seperti langkah-langkah berat tercekat malam ini
adalah suara rerontokan hujan yang melanggar janji
pada kemarau yang telah menentukan bulan dan hari
sementara di dadaku ada cemas membongkah-batu
cemas akan ingatanku yang mungkin tengah meleleh
di suatu retakan. setelah sekian lama aku abaikan

gorontalo, oktober 07

beberapa hari setelah kau pergi

•Oktober 16, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

sajak m aan mansyur

:Nenek

BEBERAPA hari setelah kau pergi
aku menerima kiriman ini:
sore berwarna merah hati seperti bibirmu
belepotan dengan daun sirih dan pinang
juga dongeng yang tak menemukan akhirnya

tentang lelaki yang suka bersenandung
setiap mendengar malam jatuh di bubungan
dan seorang perempuan yang hidup
dengan telinga di setiap ujung rambutnya

BEBERAPA hari setelah kau pergi
aku akhirnya membuka jendela kamarku
dan menemukan hujan membuat danau
di sepatu kiriku dan laut di sepatu kananku

lima jari kakiku jadi anak kecil di danau itu berenang
seperti waktu tak punya kemauan untuk beranjak
lima jari kakiku yang lain bersiap jadi perantau
berlayar menunggang ombak mencari jarak
ingin segera melupakan waktu yang bergerak

BEBERAPA hari setelah kau pergi
di langit aku berjumpa dengan bulan
tipis seperti sesungging senyum yang enggan
dan awan abu-abu seperti seragam yang kotor

aku mengenang senyummu di sebuah pagi
ketika usiaku belum pantas menyebut-nyebut
perempuan, pelaminan atau malam pertama
dan kau memegang kelaminku yang belum disunat

BEBERAPA hari setelah kau pergi
pohon-pohon kopi di belakang rumah
memasang musim semi di rantingya
bunganya membawa kembali nafasmu,
aroma konde dan pelukanmu ke dadaku

pohon-pohon kopi itu kau yang tanam
sebab katamu kau benci kopi kemasan
pohon-pohon itu kau wariskan kepadaku
agar aku selalu lebih cerah dari matahari

Tuhan, dengar doa kami

•Oktober 12, 2007 • 1 Komentar

sajak dedy hermansyah

Tuhan, jadikan dua mata kami serupa
Lampu senter yang bercahaya di malam gelap
Sebab hitam terlalu mencurigakan bagi seribu
Mata pedang iblis yang datang menyayatnyayat jantung

Tuhan, bangunlah rumah sakit gratis atas namamu
Dengan malaikatmalaikat ramah dan santun sebagai dokternya
Agar kami bisa berobat tanpa biaya
Dari flu burung, busung lapar, demamberdarahdengue, dan
Penyakit kelas rendah lainnya, yang senantiasa mengintai kami

Tuhan, turunkan kembali nabinabimu
Yang pernah membuat banyak prestasi
Dengan menghancurkan berhalaberhala, menentang firaun
Mengharamkan perbudakan, mengajarkan kebenaran dan lainlain
Untuk membela kami di pengadilan dan melindungi kami
Di jalanjalan

Tuhan, buatkan kami rumah sederhana saja
Tanpa pagar agar kami bisa terus saling menyapa
Tanpa kamera pengintai agar kami lepas dari rasa curiga
Dengan sedikit remang lampu agar kami bisa tertidur

Tuhan, berikan nomor teleponmu
Yang bebas pulsa tentunya, agar kami
Bisa setiap hari meneleponmu
Atau jadilah kau psikolog bagi kami
Untuk mencari obat bagi batin kami yang setiap hari
Harus menangis, sebab hidup yang selalu
Memberi cuaca buruk bagi kami

Tuhan, kamiharap pemilu nanti
Kau sudi mencalonkan diri menjadi presiden
Dengan visi dan misi menjadikan dunia lebih beradab
Dan hidup yang lebih adil bagi kami
Karena kami tahu, kau bukanlah pembohong
Seperti merekamereka itu

Tuhan, jika doa kami terlalu banyak
Kau boleh memilih salahsatunya saja
Agar mudahamudahan beban kami sedikit terobati
Amien….

makassar, 19/09/05

pertemuan bayang

•Oktober 12, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

sajak andi astri yuningsih

apa lagi-yang-kau mau?

telah kusisihkan 6 jam setiap hari
kadang pula setiap malam
membangun sebuah jalan
di atas orang lalu lalang
yang mungkin menuju halaman
tempatmu membuat ayunan

sebuah jalan
tepatnya sebuah jembatan
hanya kita yang paham
cara melangkah pada ubin
juga berpegang di temali

apa lagi-yang-kau mau?

sekarang kau harus tau
wajahku menyimpan kerutan
beberapa baris kerutan
yang harus kusimpan
saat kau memanggilku datang
hanya untuk membuang sia rayuan

pahamlah, sayang

segala waktu yang berisi
ketakjumpaan kita
kuisi dengan pertemuan lalu

terus berulang
hingga pertemuan akan datang

Makassar, 18 September 2007