Sedang Diperbaiki

•Januari 4, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

masih!

ju panggola

•November 4, 2007 • 1 Komentar

: si pemanggil air

/1/

keriap udara yang membakar ubun-ubun itu mengingatkanmu pada suatu tempat di mana panas dan beku nyaris menyatu. kau jumpai seorang muda sedang menyesah adiknya. bocah kecil yang terus merengek dan merengek. menangisi kerongkongannya yang dahaga bak disengat duri.

“apa yang kau minta pada pasir,” tanyamu. “lapang ini teramat kosong. tinggal rerumputan yang kemarin masih terhampar dan hari ini sedang terbakar.”

pemuda itu tak menjawab. hanya leleh airmatanya menggenapi pertanyaanmu dengan bayangan tentang duka yatim-piatu. “dari tanah sendiri kami terusir, dan yang menjawab kami hanyalah pasir.”

dan sembari berharap tuhan belum pergi, kau menyeluk kantong jubah lusuhmu. mengeluarkan sepotong ranting kering lantas menghujamkannya ke atas tanah yang lereng dan miring. potongan ranting hadiah dari seekor induk murai setelah kau menyelamatkan sarangnya.

dari lubang bekas hujaman itu, memancur air yang berkeloceh seperti oceh bayi-bayi murai kelaparan. “berhentilah menangis dan tak perlu mendidihkan air,” pesanmu. “karena air ini jauh lebih hangat daripada airmatamu.”

/2/

“berhentilah dulu,” ujarmu seraya mengusap punggung lembu itu. “berhenti dan tinggal sebentar di tempat ini. aku akan mencari buah-buahan hutan paling segar. paling manis. buat makan kita.

“berhenti dan biarkan iring-iringan semut itu lewat. mereka tak kenal kau, tak kenal aku, pula tak kenal perjalanan kita. yang mereka kenal adalah sang ratu yang mesti diberi makan, dan bayi-bayinya yang malang.

“berhentilah di sepotong perjalanan yang hampir tanpa tujuan ini. kudengar, di dusun seberang, wabah kusta menyerang. dan sumur yang bertahun-tahun tak kesiur. semoga dalam sekali lenguhan, kau mampu memanggil kelopak mata air yang terkatup itu, agar kembali membuka. dan dengan airnya aku akan membasuh muka-muka yang luka.

“jadi tinggallah supaya aku dapat membawakanmu buah-buahan hutan paling ranum. paling bernas. agar kakimu tetap kukuh di perjalanan ini, dan lidahmu dapat melenguh di dusun nanti. biarkan iring-iringan semut itu lewat. karena mereka tak kenal kau, tak kenal aku, tak kenal perjalanan bahkan tujuan kita. yang mereka kenal, mungkin, adalah hidup yang telah ditakdirkan tanpa cinta.”

/3/

anak-anak senja baru saja melukis layung, saat kau tiba di bukit itu. menemukan sebuah liang yang kelamnya lebih kelam dari campuran dawat dan malam.

miris. isi liang itu kau tatap tiada. dengan tatapan seorang pelupa tatkala menemukan kenangannya terkubur di bawah tumpukan kotoran yang terbuat dari gulungan mimpi buruk.

“mengapa tiap sumur yang kutemui selalu saja tanpa air,” dengusmu sambil masih percaya tuhan belum mangkir. “air…air, bila kau ingin berguna, biarkan tubuhmu memberi minum para musafir.”

dan air itu menyahut panggilanmu. membuncah seperti cermin lebar yang terus melebar. sampai di bibir liang, menyapa seorang tua yang menyanyikan melankolia untuknya. “ah, betapa lezat dirimu. jadilah lebih mulia dengan memberi minum hutan dan isinya.”

lembumu tak pergi ke mana. satu kali, dia kitari bukit ini. dan air mengikuti tilas-tilas kakinya, seperti anak kecil mengejar punggung bapaknya yang bakal pergi berperang, yang setelah bertahun-tahun mungkin tak akan pulang.

senyummu lebar dan terus melebar, saat perjalanan air berhenti di titik mula. nanti, besok pagi, akan kau temukan pantulan matahari di sekeliling bukit yang telah berisi danau itu.

/4/

padaku, kau mengaku, tak sedang menunggu seseorang ataupun sesuatu. tapi nyatanya banyak yang datang dari utara. bersimpuh di kakimu yang terkelampai menghadap selatan. kau tak sedang menunggu seseorang, tapi nyatanya, banyak yang menangis di nisanmu dan membuat mukim di atas makammu.

mereka datang meminta sesuatu yang lebih abadi dari ladang-ladang gembur tempat tumbuh sayur-mayur subur.

lantas akan kau beri apa pada mereka. sementara kau hanya seorang pemanggil air yang fakir. bahkan, saat kau seharusnya sedang bersenda-gurau dengan tuhan, airmata masih merambati helai-helai benang di jubah lusuhmu. ah, airmata. kepadanya kau tak pernah suka sekaligus tak pernah lupa.

makassar, november 07

aku membacamu

•Oktober 21, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

–multatuli

kau bersaksi pada zaman yang beringas dan buas
bahwa tugas manusia adalah menjadi manusia

lalu kau abadikan segala jejak
segala tapak yang berontak
sebab kasut yang tercerabut
tanpa terganti meski hanya sabut

kau jadikan ia kitab persaksian
tentang hidup yang redup akan nurani
tentang hati yang papa akan cinta
tentang kuasa yang luber akan durjana

lalu kau pergi
sisakan sekelumit sakit yang belum juga usai
namun sebuah mantra diamdiam telah kau tebar
ke segenap tubuh kami
pada kitab yang menjelma layar tancap
merekam wajahwajah muram
yang dipaksa bungkam dan diam

kau ajarkan tentang kehakikian
hidup manusia yang tak kekal
kau wejangkan tentang kesejatian
perjalanan manusia yang kadang bebal

sebab, kau paham benar
segala yang binar akan hilang pendar
segala yang hadir akan pergi menyingkir
segala yang datang akan pamit pulang

multatuli, aku membacamu
dan aku jadi paham: kita belumlah sempurna
menjadi manusia

purnama, 13/03/06

Satu sebab

•Oktober 21, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sebab kau ambil isi kepalaku
saat itu
Di suatu siang
yang kurasa paling panas
dalam bulan Oktober tahun ini

Saat puasa mengalih perhatian
dari kepalaku

Kau datang mengambilnya
diam-diam
Mengganti isinya dengan replikamu

Sehingga bila siang telah pergi
dan aku sadar kembali

Mataku hanya mengenali
tempat yang pernah kau tuju
Sementara kakiku hanya mengingat
jalan menuju rumahmu

Sebab itu pula!

Sepanjang jalan menuju rumahmu
tak henti ku ditertawai awan
percikan ludahnya
serupa bulir hujan
terkadang serupa embun
yang sekian waktu, lama tertahan

Sebab kau ambil
isi kepalaku

Jariku tak sepenuhnya mencinta puisi
Terkadang jariku pun membenci

Sebab semua yang kau ingin dulu
telah terjadi padaku

Maka kumohon

Kembalikan isi kepalaku!

Makassar, Oktober 2007

pelukan

•Oktober 21, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

/1/

sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?

masih aku ingat pertanyaanmu itu
dulu aku tak bisa menjawabnya
tetapi begitulah kau, selalu begitu,
jika ada pertanyaan kau lontarkan
sudah kau siapkan juga jawaban

lenganmu memang terlalu pendek buat tubuhmu
tetapi tentu saja cukup panjang buat tubuhku

lalu kau merasuk ke dalam pelukanku
dan berdiam di sana

masih kau simpan pelukan itu?

kita bertanya serempak
lalu sama-sama terbahak

pelukanlah satu-satunya
jawaban atas pertanyaan itu

lalu benam kita ke dalam kenangan

/2/

istriku lebih suka memeluk dari pada berkata-kata:
aku mencintaimu, nak!
aku mencintaimu, pak!
seolah-olah dua lengannya
bisa menyampaikan semua rahasia

anak-anak kami tumbuh
lebih mencintai lengan dari pada kata-kata

itulah sebabnya istriku setiap malam
berdoa agar ia bisa jadi seekor gurita
dan semua kami bisa masuk ke dalam
pelukan tangan-tangannya

/3/

satu per satu tubuh
akan lepas dari pelukan
lalu lengan-lengan kita
mulai mengenal sengketa
mulai mengenal senjata

tubuh memang ditakdirkan
awalnya jadi milik pelukan
lalu kemudian milik peluru

2007

jalan kota

•Oktober 21, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

di kota ini, jalan-jalan meleleh
seperti kenangan yang membenci tubuhnya sendiri
sehingga tiap pejalan-kaki mesti berjalan perlahan
amat hati-hati

entah di retakan jalan mana
pernah aku tanam ingatanku
tentang rimis-rimis cahaya dari matamu
tentang suatu waktu
ketika jarum jam sempat sejenak tak berdetak
setelah sececap ciuman yang kau titipkan di bibirku
menemaniku pulang dengan kedua tungkai yang layu

setiap kelok di jalan-jalan kota ini
mengingatkanku pada alir sungai
di rambutmu yang urai
pada kenangan yang tiap kali kau potong
akan bertambah panjang, semakin memanjang
dan semakin nakal menjawil punggungmu

suara seperti langkah-langkah berat tercekat malam ini
adalah suara rerontokan hujan yang melanggar janji
pada kemarau yang telah menentukan bulan dan hari
sementara di dadaku ada cemas membongkah-batu
cemas akan ingatanku yang mungkin tengah meleleh
di suatu retakan. setelah sekian lama aku abaikan

gorontalo, oktober 07

beberapa hari setelah kau pergi

•Oktober 16, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

sajak m aan mansyur

:Nenek

BEBERAPA hari setelah kau pergi
aku menerima kiriman ini:
sore berwarna merah hati seperti bibirmu
belepotan dengan daun sirih dan pinang
juga dongeng yang tak menemukan akhirnya

tentang lelaki yang suka bersenandung
setiap mendengar malam jatuh di bubungan
dan seorang perempuan yang hidup
dengan telinga di setiap ujung rambutnya

BEBERAPA hari setelah kau pergi
aku akhirnya membuka jendela kamarku
dan menemukan hujan membuat danau
di sepatu kiriku dan laut di sepatu kananku

lima jari kakiku jadi anak kecil di danau itu berenang
seperti waktu tak punya kemauan untuk beranjak
lima jari kakiku yang lain bersiap jadi perantau
berlayar menunggang ombak mencari jarak
ingin segera melupakan waktu yang bergerak

BEBERAPA hari setelah kau pergi
di langit aku berjumpa dengan bulan
tipis seperti sesungging senyum yang enggan
dan awan abu-abu seperti seragam yang kotor

aku mengenang senyummu di sebuah pagi
ketika usiaku belum pantas menyebut-nyebut
perempuan, pelaminan atau malam pertama
dan kau memegang kelaminku yang belum disunat

BEBERAPA hari setelah kau pergi
pohon-pohon kopi di belakang rumah
memasang musim semi di rantingya
bunganya membawa kembali nafasmu,
aroma konde dan pelukanmu ke dadaku

pohon-pohon kopi itu kau yang tanam
sebab katamu kau benci kopi kemasan
pohon-pohon itu kau wariskan kepadaku
agar aku selalu lebih cerah dari matahari